SEKILAS SEJARAH DESA SAOTENGAH

SEKILAS SEJARAH DESA SAOTENGAH


        2.1.1. Sejarah Desa      
Desa Saotengah yang kita kenal seperti sekarang ini hanya sebagian kecil dari wilayah Desa Saotengah yang cukup luas sebelum terjadi pemisahan dan pemekaran desa di masa lalu. Wilayah Desa Saotengah sekarang hanya tersisa dari sebuah kampung pertemuan antara Kampung Kalobba dengan Kampung Korong atau lebih dikenal  Ompoe di masa lalu yang menjelma menjadi dusun Lappae sebelum pemekaran massal pada tahun-tahun 1990-an sampai tahun 2000-an. Pada masa kerajaan persekutuan Raja-raja Tellu Limpoe (Tondong, Bulo-Bulo dan Lamatti) dan Pitu Limpoe (Turungeng, Terasa, Manipi, Manimpahoi, Suka, Bala Suka dan Pao), wilayah Desa Saotengah atau di masa lalu bernama Arung Nangka secara defakto berada dibawah kekuasaan Kerajaan Bulo-Bulo dan pada masa pemerintahan Kolonial Belanda wilayah Arung Nangka berada dibawah Adat Gemenchap Bulo-Bulo Barat yang berpusat di Bikeru. Berdasarkan hal tersebut wilayah Arung Nangka dari waktu ke waktu meliputi:

(i)        Kampung Joalampe (pusat pemerintahan: sekarang Desa Ale Nangka)

(ii)      Kampung Korong atau Gella Korong (sekarang Desa Samaturue)

(iii)     Kampung Kalobba atau Macoa Kalobba (sekarang Desa Kalobba)

(iv)      Kampung Sompong atau Gella Sompong (sekarang Desa Massaile)
          Menurut sejarahnya nama SAOTENGAH telah dipergunakan sebagai nama wilayah ini (Arung Nangka/Saotengah) pada zaman kerajaan Bulo-Bulo, bahkan menurut cerita rakyat nama SAOTENGAH lebih dulu dipergunakan sebagai nama akkarunneng daripada nama Nangka. Nama SAOTENGAH diambil dari bentuk Rumah (sao dalam bahasa bugis klasik) Arung Nangka pertama BASO BOGO DG PARANI  berbentuk payung yang hanya memiliki satu tiang ditengah dan memiliki ruas antara semua sudut ruangan sama luasnya. Oleh karena bentuk arsitekturnya yang hanya memiliki satu tiang ditengah, maka Rumah tesebut diberi nama Sao-Tengngah berarti Rumah bertiang tengah. Dalam penggalan kalimat Bahasa Bugis diterjemahkan berikut; sao artinya Rumah sedangkan tengngah: artinya tengah dengan kata lain  tiang Rumahnya berada di tengah. Dari nama inilah penghuni Rumah tersebut di gelar Puang Saotengah atau Puang Lompo dan wilayahnya disebut Arung Saotengah. Versi lain mengatakan bahwa nama Saotengah diambil dari penggalan Bahasa Bugis Massau- Ditengngah, yang artinya massau: berada di poros antara dua atau lebih matra dan ditengngah;  di tengah, kata itu diambil dari keberadaan wilayah ini yang berada persis pertemuan antara dua kebudayaan besar, yakni: kebudayaan Makassar disebelah selatan (Gowa) dengan  kebudayaan Bugis disebelah utara (Tellu Limpoe dan Bone) dan wilayah ini berada persis ditengah antara dua kebudayaan besar ini, maka atas dasar ini Arung pertama pada saat itu memberi nama wilayah kekuasaannnya dengan Sau-Tengngah yang akhirnya dilafalkan menjadi SAOTENGAH.

Pada masa pemerintahan Arung Kedua BESSE KALAKA mengubah nama Saotengah menjadi Arung Nangka, peristiwa ini terjadi pada saat beliau beristirahat di istananya di Paccing (suatu tempat di Desa Ale Nangka sekarang)  yang berdekatan dengan telaga kecil tempat mandi kerbau, tiba-tiba anjing menggonggong bertanyalah BESSE KALAKA pada pengawalnya (suronya) “apa yang saksikan anjing kenapa menggonggong begitu keras, suro” menjawablah suro “anjing menggonggong karena melihat bayangan buah nangka (lempu bahasa bugis) di telaga Paduka tuan (Puang)”, mendengar jawaban suro (pengawal) beliau bertitah namakan wilayah kekuasaan saya ini dengan nama Nangka dan karena itu BESSE KALAKA digelar dengan BESSE NANGKA dan wilayah kekuasannya disebut Arung Nangka untuk mengabadikan peristiwa di atas, maka nama Arung Nangka digunakan sebagai nama wilayah kampung berada disebelah barat dan disebelah timur Sungai Apareng hingga sampai tahun 1960-an setelah pembentukan desa gaya baru. 
          Arung Nangka (nama lain: Saotengah) terbentuk sekitar abad 17 masehi pada masa Pemerintahan Raja Bulo-Bulo ke-17 JAI Dg. NIYATU yang menetapkan dan mengeluarkan kebijakan  memperluas struktur organisasi pemerintahan Kerajaan Bulo-Bulo pada saat itu, sebagai akibat terjadi pertambahan penduduk yang terus meningkat dan wilayah kekuasaannya terus berkembang. Wilayah Nangka atau Saotengah menjadi wilayah Kerajaan Bulo-Bulo  merupakan hasil penaklukan Raja ke-5 Aputappareng yang menaklukkan Bulukumba dan sekitanrya pada abad 14 masehi.  Sebelum Arung Nangka (Saotengah) terbentuk wilayah ini telah dihuni dan ditempati oleh penduduk yang berpindah-pindah mencari tempat subur dalam kelompok kecil yang dikepalai oleh Anang (orang tua kampung) yang berkembang menjadi Gella dan wilayah ini dinamakan Alo’na Apereng setelah Apungtappereng Raja Bulo-Bulo ke-5  menaklukkan daerah ini bersama wilayah Bulukumba dan sekitarnya.  Sekitar tahun 1769 dibentuklah Arung Saotengah (Arung Nangka) dan BASO BOGO DG PARANI sebagai  arung pertama yang merupakan  salah satu cabang keturunan Raja Bulo-Bulo. Setelah digantikan oleh Putrinya BESSE KALAKA yang bergelar BESSE NANGKA, maka nama Arung Nangka digunakan sampai pada tahun 1960-an.   

 Pada tahun 1960 Bupati Sinjai Pertama Abd. Latif  berdasarkan Undang-undang Nomor; 25 Tahun 1959 Tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II mengeluarkan kebijakan Pembentukan Desa Gaya Baru, yakni kebijakan peralihan dan perubahan nama arung (penguasa kampung) menjadi desa di Kabupaten Sinjai yang mengharuskan Arung Nangka menjadi kepala desa, pada saat yang sama dikeluarkan pula kebijkan pergantian nama desa. Petta Bennu yang tunjuk menjadi pejabat sementara  kepala desa pada saat peralihan dari arung menjadi kepala desa pada tahun 1962 mengundang seluruh tokoh masyarakat Nangka untuk bermusyawarah membahas mengenai penggantian nama nama desa. Pada musyawarah yang diadakan pada tahun 1962 muncul dua usalan nama desa yakni; (1) Desa Saotengah,  dan (2) Desa Tanjo,  musyawarah  akhirnya menyetujui nama Saotengah menjadi nama desa, karena dianggap memiliki akar sejarah yang kuat, dan pada saat itulah nama Saotengah dikukuhkan menjadi nama Desa Saotengah untuk menggantikan nama Nangka untuk wilayah Arung Nangka.      
          Pada tahun 1962 Petta Bennu digantikan oleh Mappamadeng sebagai pejabat sementara Kepala Desa Saotengah dan masa pemerintahannya terjadi konflik politik yang berkepanjangan dikalangan tokoh di Saotengah yang menyebabkan Mappamadeng diganti oleh A. Nurdin sebagai pejabat sementara Desa Saotengah pada tahun 1964 untuk meredam suasana konflik yang terjadi pada waktu itu.  Pada bulan Agustus 1967 diadakan pemilihan desa di Nangka yang diikuti oleh 5 kandidat yaitu; (i) A. Mattoana Kadir, (ii) Mamun, (iii) Nennung Dg Sirua dan (iv) Abd. Asis Dg Sitaba, (v) Teppeng Dg Sitakka. Hasil pemilihan menunjukkan A. Mattoana Kadir peraih suara terbanyak dan akhirnya A. Mattoana Kadir  yang lantik menjadi Kepada Desa Sotengah pertama yang defenitif pada tanggal 16 Agustus 1967. Wilayah Desa Saotengah meliputi wilayah Arung Nangka terdiri dari: (1) Kampung Joalampe, (2) Kampung Korong, (3) Kampung Kalobba, dan (4) Kampung Sompong. Pada tahun 1969 A. Mattoana Kadir memindahkan pusat pemerintahan Desa Saotengah dari kampung Joalampe ke kampung Kalobbba di suatu lokasi bernama Ompoe yang menjelma menjadi Dusun Lappae pada tahun 1979 dan Kepala Dusun pertamanya Abd. Karim.  
          Pada tahun 1975 Kampung Joalampe (menjadi Desa Ale Nangka pada tahun1990) dilebur ke Desa Sangiaserri atas permintaan Kepala Desa kedua H. Dottoro sebagai akibat konflik antara A. Petengngai Kepala Kampung Jolampe dengan H. Dottoro yang berkepanjangan pada waktu, untuk mengakhhiri konflik, maka Joalampe disepakati masuk ke Desa Sangiaserri dan sebagai gantinya wilayah Siri (Desa Sangiaserri) disebelah barat Balangpesoang dilebur ke Desa Saotengah, disepakati Sungai Apereng menjadi batas desa antara Desa Saotangah dengan Desa Sangeiasseri. Pada tanggal 25 Desember 1985 Kampung Kalobba berpisah menjadi Desa Kalobba berturut-turut ikuti oleh Kampung Sompong dimekarkan pada bulan Desember 1989 dengan nama Desa Massaile dan terakhir Kampung Korong berpisah pada tanggal 23 Desember 2005 dengan nama Desa Samaturue. Sekarang wilayah Desa Saotengah hanya meliputi Dusun Lappae dan sebagian wialyah Kampung Korong di masa lalu. 
          Sepanjang sejarahnya pemerintahan Arung Nangka dan Kepala Desa Saotengah selama  kurang lebih  200 tahun telah mengalami pergantian Arung dan Kepala Desa. Adapun susunan Arung Nangka dan Kepala Desa Saotengah sepanjang sejarah dari masa ke masa adalah sebagai berikut:
1.     Baso Bogo Dg Parani
(Arung I: 1769 – 1794)

2.     Besse Kalaka atau Besse Nangka
(Arung II; 1794 – 1824)

3.     Lihu Dg Maliun
(Arung III: 1824 – 1869)

4.     Jollo Dg Riolo 
(Arung IV: 1869 – 1899)

5.     Chanrikko Dg Patanga
(Arung V: 1899 – 1924)

6.     Caco Dg Pasau
(Arung VI: 1924 – 1955)

7.     Sakkirang Dg. Manassa
(Arung Pasanre/pejabat Arung: 1955 – 1960)

8.     Petta Bennu
(Pejabat Sementara peralihan arung ke desa; 1960 - 1962)

9.     Mappamadeng
(Pejabat Sementara peralihan: 1962 – 1964)

10. A. Nurdin 
(Pejabat Sementara peralihan: 1964 -1967)

11. A. Mattoana Kadir
(Kepala Desa Defenitif ke - I: 1967 – 1971)

12. Abd. Rahman K
(Pjs. Kepala Desa 1971- 1972)

13. Dottoro
(Kepala Desa - II: 1972 – 1993)

14. Daming
(Pjs. Kepala Desa 1993 – 1994)
                       
15. Erni Martina HD
(Kepala Desa - III : 1994 – 2010)

16. Jabir Burung
(Pjs. Kepala Desa; 2010 - 2011

17. A. Asdar AM
(Kepala Desa ke - IV; 2011 – 2014)

18. Nurbaya, SE
(Pjs. Kepala Desa 2014- 2015)

19. Hariyanto  
(Kepala Desa V; 2015 – 2021)        


Demikian sejarah singkat Desa Saotengah (Penulis Umar yudirma)


Post a Comment

0 Comments